 |
dari kiri kekanan, Ombak , saya Beruang dan Angin
puncak Lompobattang |
Akhir bulan agustus 2017 yang lalu, kami anggota Kpa Spala Gowa telah merencanakan pendakian kesalah satu gunung yang banyak digemari oleh kalangan pendaki, yaitu Gunung Lompobattang. Dimana nantinya akan menjadi pendakian perdana kami ke gunung ini. Dan kami sudah jadwalkan untuk berangkat pada hari jum'at tanggal 9 september 2017.
Gunung Lompobattang, berdiri tegak dengan ketinggian 2714 Mdpl, terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia, dengan titik Koordinat 5° 20’ 53” LS, 119° 55’ 57” BT. Gunung ini berdekatan dengan gunung Bawakaraeng. Seperti Gunung Bawakaraeng, gunung ini juga menjadi sasaran singkritisme yang melakukan Ibadah Haji dipuncak gunung ini pada musim haji bulan Zulhijjah, yang disebut dengan Haji Bawakareng. Suhu minimum di gunung Lompobattang adalaah sekitar 17° Celcius, hingga maksimun 25° Celcius. Gunung Lompobattang termasuk gunung api tidak aktif tipes tratovolcano atau kerucut.
Menurut catatan sejarah, orang pertama yang menapakkan kakinya di gunung Lompobattang adalah seorang pendaki yang berasal dari Inggris, bernama James Brooke pada tahun1840.Meskipun sebenarnya pendaki pertamanya bukan orang inggris ini, melainkan masyarakat sekitar namun, dialah yang pertama kali mendeklarasikan Gunung Lompobattang pada masyarakat dunia.
Seperti gunung Bawakaraeng, gunung ini juga, menjadi objek pendakia nmelalui Desa Lembang Bu’ne di Kelurahan Cikoro’, Kecamatan Tompo’bulu, Kabupaten Gowa. Tapi, pendakian ini, rencananya kami akan menggunakan jalur Gunung Bawakaraeng, yang dimulai dari tempat dimana kami tinggal. Yaitu Dusun Silanggaya, Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa. Dimana nantinya, jalur ini bertaut dengan jalur Lembanna dipertangahan pos 7 dan 8.
Jum'at tanggal 9 september, hari dimana kami akan memulai pendakian. Rencananya akan mulai star sesudah shalat jum'at. Namun, siang itu, dalam benak saya berkata, bahwa rencana ini hanya akan jadi rencana. Sebab, saya melihat tak satupun anggota Spala yang melakukan persiapan. Sampai akhirnya saya ketemu dengan Nawir atau biasa di panggil Ombak, dimana dia adalah ketua umum Spala Gowa. "Angnguraji jari jatoa a'lingka"? Tanyaku pada dia dengan bahasa kami sehari-hari. "Issengi, inai'ijado ke'nangia la'lingka, punna rua jatoa, poahh illamatoa a'lingka'i bela.! Jawab dia dengan perasaan ragu. "Elo'ji na kua'ang I Angin ia a'lingka. Jawabku.
Setelah itu, saya langsung mendatangi rumahnya Angin untuk menanyakan jadi tidaknya dia pergi. Sesampai saya dirumahnya, saya langsung nanya, " we angguraji jarijako a'lingka? "aihh tena kapang.! Balasnya dengan nada rendah. Angngurai na tajaria? Tanyaku lagi. "Tena la kammiki bolaku belaa, kanaungi bapakku na ammakku riBenga" jawabnya lagi. Disitu sayapaham dan menerima alasannya, saya pun juga tidak bisa memaksa. Dan akhirnya saya pamit untuk pulang, saya pun merasaputus asa dan menganggap rencana pendakian ini sudah gagal totalll notallk.!
Sore harinya, Ombakdatang menemui saya dan menanyakan apakah Angin mau pergi atau tidak. "Angnguraji elo'ji I Angin a'lingka?" tanya dia pada saya." aihh tena" jawabku. Karena kami berdua sudah terlanjur berencana untuk mendaki, akhirnya kami berdua putuskan untuk mendaki di tempat lain saja. Namun, belum sempat kami fikirkan tempat dimana kami mau mendaki, Angin tiba-tiba datang dan bilang pada kami, "angngurai punna mukopa na a'lingka toa?""mingka attantuji muko la lingkanu bela?' balas Ombak pada Angin. "Iyo jariji antu!" jawab Angin.Disitu saya ikutsaja, mau besok atau lusapun tidak masalah yang penting rencana ini tidak batal. Dan akhirnya kami bertigaanggota Spala Gowa, yaitu Angin dari angkatan Kabut Alam, Ombak dan saya Bernarddari angkatan Akar Bumi, telahsepakat untukberangkat besok pagi.
Sabtu tanggal 10 september, pukul 09:27 pagi, kami bertiga mulai star menuju Puncak LompobattangdenganmenggunakanjalurSilanggayadan tak lupa juga kami berdoa pada Sang Pencipta Gunung Lompobattang-Allah SWT- agar perjalanan kami dilancarkan.
Mulailah pagi itu, tiga pasang kaki makhluk yang bernama manusia melangkah demi langkah untuk menapaki Puncak Lompobattang. Diawal perjalanan masih jalan aspal, sampai terdapat belokan kiri sebelum jembatan. berupa jalan pengerasan yang menuju ke perkebunan warga. Jalan pengerasan ini, terhubung sampaidi Pos 1. Yang artinya mobil bisa naik sampai ke pos ini.Untuk bisa sampai di pos 1, hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit. Di pos ini, menyuguhkan pemandanganyang akan menghipnotismata, karena kita bisa melihat jejeranrumah di wilayahKecamatan Tombolopao dan kita juga bisa melihat Gunung Bohonglangi yang memiliki keunikan, ia dijuluki gunung berselimut. Dimana warga Silanggayapercaya dan menjadikannya tanda, khususnya pada musim kemarau, bahwa ketika di Bulu' Bohonglangi diselimuti oleh awan, maka tidak lama lagi hujan akan turun.
Dari pos 1, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Oya di Pos I sampai dipertengahan pos 2 masih terdapat jaringan!. Saya pun saat itu, menyempatkan untuk mengakses internet dan mengabarkan posisi terakhir kami saat itu. Jalur menuju pos 2 masih sangat kentara, karena masih sering dilewati warga, ketika mau mengecek keberadaan ternaknya yang di lepas di hutan.
 |
nampak saya dan Ombak lagi istrahat sembari
menambah tenaga, Pos 2 Lembah Terbuang |
Jam 11:23, kami sudah sampai di pos 2. Kami pun istrahat dan menambah tenaga dulu di pos ini.Disitu Ombak mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, dan ternyata itu "songkolo'"-nasi beras ketang- langsung saja saya menyantapnya dengan lahap, karena tadi sebelum berangkat saya tidak sempat sarapan. Di pos 2 ini, tempatnya datar dan sangat terbuka. Dan terdapat sungai yang mengitarinya. Di tempat ini pun, sering dijadikan sebagai tempat pendiksaran Kelompok Pecinta Alam, karena temptanya sangat strategis. Warga menamai tempat ini, dengan nama "Peddakia". Tapi kami sendiri dari Kpa Spala Gowa, menamakannya "Lembah Terbuang".
Karena rencana awal, kami akan camp di pos 11. Maka setelah mengisi tenaga, kamilangsung gass pooll.Di pertengahan pos 2 dan pos 3, terdapat percabangan ke kanan, jalur ini menuju ke Puncak Spala 2019 mdpl dan juga Bulu' Kalimbungan 2118 mdpl, dengan jarak sekitar 2 km atau 1 jam 30 menit perjalanan. Namun karena jarang ada yang kesana, jalurnya sudah agak tidak kentara.
Di pos 2 ke pos 3, hanya terdapat sedikit tanjakan, selebihnya sudah landai, sampai di pertengahan pos 3 dan 4.
Tidak terasa, kami sudah sampai di pos 3tepat jam 1:00 siang. Di pos ini, terdapat sungaimusiman. Dari sini, kami terus melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Di pos 3 ke pos 4 hanya memakan waktu sekitar 40 menit perjalanan, begitupun dari pos 4 sampai ke pos 5.Di pos 4, terdapat mata air, sekitar 100 m ke sebelah kiri. Sampai di pos 4, kami hanya istrahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan lagi, gass poll!!
Jalur pos 4 ke pos 5, medannya sedikit menanjak,kemudian landai yang disisi kirinya terdapat jurang. Disini kita bisa memanjakan mata sekaligus menghilangkan sedikit lelah, karena kita bisa mengintipjejeranrumah yang penghuninya ramah-ramah. Sebutlah ia Kampung Tassoso. Di kampung ini juga, terdapat jalur ke Bawakaraeng yang bertaut di pos 9 jalur Lembanna.
Langkah demi langkah, jam 02:43 menjelang sore, tibahlah langkah kaki kami bertiga di Pos 5.Di pos ini, terdapat batu besar menjulang tinggi dan dibawahnya terdapat tanah datar, kira-kira berukuran 3x6m. Konon,ditempat ini dulu ada gua, yang dijadikan tempat persembunyian orang Kombang-nama kampung yang adadi Sinjai Utara- pada masa penjajahan Belanda. Namun, batu besar tadi jatuh dari atas, hingga menutupi seluruh mulut gua tersebut. Dan menurut cerita- entah benar atau salah- ada beberapa orang yang tertahan di dalam gua itu dan tidak bisa keluar lagi. Sampai akhirnya, gua itu disebut "Liang Tukombang" yang artinya gua orang Kombang.Kebenaran cerita ini, dikuatkan dengan seringnya ditemukan bekas sesajen yang dipakai untuk mendo'akan orang yang sudah meninggal.Tak cukup lama kami disini, kamipun melanjutkan perjalanan.
Tak jauh dari pos 5 ke 6, terdapat 2 sungai kecil yang akan dilewati. Di sungai inilah, tempat mengambil air, ketika akan camp di pos 6. Karena di pos 6 ini, medannya datar dan sedikit terbuka, kira-kira bisa muat 5tenda. Serta sungai tadi, tidak terlalu jauh lagi kepos 6.
Jam 3:16, kami sudah sampai di pos 6. Disini kami istrahat untuk menambah tenaga lagi. Sengaja kami tidak memasak, karena takut kemalaman sampai di pos 11. Kami hanya mengisi perut dengan buah kurma, makanan kesukaan Nabi SAW, yang dibawaAngin. Sebuah makanan yang cocok untuk menambah tenaga. Tapi, saat itu saya tidak tau kalau itu kurma, dan saya kira itu buah asam hehehe. "Apantu" tanyaku pada Angin. "Anu.. E kurma" jawab Angin. Angngura na ombo' tumaeko angngalle? Tanyaku lagi sedikit keheranan. "Ah Daengku anjo angngerang battu ri Surabaya' jawabnya. "Oh.. ku kuaang nakke camba lanu suroangtoa angka'leroi hahahaha. Balas saya. Sontak kami bertiga tertawa terkekeh-kekeh,seketika suarakekehan kamimemecahkan kesunyian hutan belantara. Rupanya kurma itu, ole-ole yang di bawa kakanya Angin dari Surabaya.Cukup banyak candaan kami bertiga disitu yang membuat kami lupa waktu, sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 03:30. Kamipun akhirnya melanjutkan perjalanan.
Karena jalur pos 6 ke pos 7 kebanyakan menurun dan landai, sehingga tak cukup lama berjalan, kami sudah sampai di pos7. Kemudian, beberapa meter kedepan, jalur Silanggaya ini, akhirnya bertaut dengan jalur dari Lembanna dan menyatu hingga kepuncak. Darisini perjalanan kami menjadi ramai. Karena,sudah banyak pendaki yang kami temui dan langsung saja kami saling bertegur sapa.Para pendaki yang kami temui tersebut, sebagian baru mau ke puncak Bawakaraeng dan sebagian sudah mau turun.
Jam 05:37 sore, kami sudah sampai di puncak Bawakaraeng, dan langsung turun menuju dimana kami akan mendirikan tenda untuk bermalam yaitu di pos 11, sebagaimana rencana awal. Hanya kurang lebih sepuluh menit kami pun sampai dan langsung saja kami mendirikan tenda. Setelah itu, Saya dan Angin pergi mengambil air-tepat di sebelah kanan turun sekitar 30 meter- untuk keperluan masak makan malam. Sembari menunggu masakan siap santap, terlebih dahulu perut kami janggal dengan makanan cemilan, karena sedari tadi meraung-raung minta diisi.
Jam 07:00, makan malam pun sudah selesai digelar, meskipun menunya hanya mie instan tumis di tambah nasi, namun itukami anggap makanan paling istemewa diatas gunung. Menu selanjutnya, kami akan bikin minuman Sarabba'. Kalian pasti sudah tau apa itu Sarabba' bukan! Ya sebuah minuman tradisional yang dibuat dari jahe, gula aren dan santan kelapa. Tapi pernahkah kalian membuatnya saat kalian mendaki gunung bersama sahabatkalian dan menikmatinya bersama?Hal itulah, yang juga membuat saya penasaran bagaimana rasa dan sensasinya, jika minuman yang satu ini dicicipi di atas gunung. Dan akhirnya, bahan-bahan untuk membuat sarabba saya ikutkan masuk di caarel. Tapi sebelumnya bahan-bahan tersebut sudah saya olah dan jadinya tinggal langsung di masak."Angngurai ri pallumi sarabbaiya? Tanya saya pada Ombak. "iyo pallumi kidde hari'i sallo kalukunna". Jawab Ombak. Saya pun mengeluarkan bahan-bahannya dari caarel yang saya bawa, yaitu gula aren, jahe dan kelapa yang sudah saya parut. "Korokinjo riolo golla ejaiya, jari sigai ili'". Sahut saya pada Ombak. Saya sendiri memasak air untuk santan kelapa. Sementara Angin, dari tadi sibuk merekam aktivitas kami malam itu.
 |
mantapp.. ini dia sarabba romangnya wkwkwkw |
Pukul 08:09, suhu dingin mulai terasa menembus ke tulang. Tapi berungtung, Sarabba Romang (begitulah ombak menamai sarabba buatan kami) yang dari tadi dimasak telah siap menghangatkan tubuh kami. "Ta'rereapiantu nai?". Sahut Ombak yang mulai tak sabar ingin mencobanya. "A'reremi, mingka passangi malling-mallling a'rere". Jawabku. "Awwe kua'minjohe ka elokkale matoa!" jawab Ombak. "Iyo' bela tasa'minjo!"Sahut juga Angin. "Alle pale mae cantennu he". kataku pada mereka berdua. Dan langsung saja Angin dan Ombak meletakkan kaca plastiknya di depanku minta dituangkan. "Aih tena angngerang tapisan?" tanyaku pada Ombak dan Angin. "Aih tena!' jawab Angin. "Botolo' aquaiya mo kontu mae haju"sahut Ombak memberikan saran ke saya. Sayapun mencari botol aqua tapi saya tidak melihat satupun botol aqua. Saya hanya menemukan kantong plastik mie dan itu yang saya bikin saring dengan membuat lobang-lobang kecil di bagian bawahnya. Mulailah saya menungkan sarabba tadi yang masih panas kedalam gelas secara perlahan. Tapi sayangnya penyaringan yang saya bikin tadi lobangnya agak kebesaran, sehingga banyak ampas sarabba yang lolos turun ke gelas. Tapi itulah pendaki, tidak ada rotan, akar pun jadi. "Nyamanji?" tanyaku pada Ombak yang lebih dulu mengalirkan sarabba di tenggorokannya. "Adada tanning dudui, nampa lohe garottongna". Jawab Ombak sambil membuang ampas sarabba yang memenuhi pinggir gelasnya. "Tanning dudu tojeki ba!" Sahut juga Angin."ka ri tamba'i do' pole susu, iya minjo na tamba tanning!" kataku sambil mencobanya juga. Jadilah malam itu, kami bertiga mengomeli sarabba buatan kami yang terlalu kemanisan. Tapi lucunya, sambil ngomel, sarabba di gelas kami sudah mau habis dituang ke mulut. Hhehehe
Tak terasa malam sudah larutbersamaan dengan larutnya beberapa gelas sarabba di tubuh kamiyang telah mengusir suhu dingin dan enggan kembali mengcengkramai tubuh kami.Kami bertiga pun, satu persatu mulai masuk ke sleeping bag masing-masing. Sementara, di luar tenda, angin sedikit berhembus menjatuhkan tetesan embunyang hinggap di dedaunan dan menimpa bentangan flyseet, hingga menghasilkan sebuahsimponi alam yang meninabobokkan kami.
Pagi menjelang, suara tetangga tenda sebelah membangunkan saya. Namun, udara dingin dipagi ini, membuat saya malas bangun dan keluar dari sleeping bag. Sementara Ombak dan Angin lagi sibuk memasak kembali sisa sarabba tadi malam. Rupanya mereka berdua sudah dari tadi bangun. "We ambaung mako angnginung sarabba". Sahut Ombak pada saya. "Ummm". Gumanku. Sebenarnya, saya masih ingin melanjudkan tidurku, tapi kami rencana melanjutkan perjalanan ke Lompobattang pada jam 08.00. terpaksa saya bangun. Tapi karena diluar,cuaca lagi berkabut, saya tidakjadi keluar tenda dan hanya tinggal dudukmemandangi keluar kabut rapat yang membuat pagi terlihat seperti masih malam. Tanpa cuci muka, saya langsung meneguk sarabba yang sedari tadi ada didepanku. "Angngura na nyamanmo sarabbanu ke' tenamo na lolo tanning" gumanku sambil meneteng segelas sarabba. "maingi ku tambai sikoddi ere" sahut Ombak.
Pukul 08.17, kabut perlahan tersibak. Sementara, sinar mentari seketika membuat embun yang hinggap di dedaunan berkilau bak butiran mutiara. Pagi ini, kami sengaja tidak memasak sarapan pagi, karena sarabba dan biskuit tadi sudah kami anggap cukup mampu membawa kami sampai di lembah Karisma, dimana rencananya kami akan makan siang sesampai disana.
Tiba-tiba salah satu pendaki yang camp di sebelah tenda kami yang nampaknya sudah mau turun datang menghampiri tenda kami dengan membawa kantong plastik warna hitam "Masih mauki bermalam kanda". Tanya dia pada kami. "Iye" jawabku. "Oh ini paeng rangsum kita ambilmi, karna mauma saya pulang". Katanya sambil memberikan kantong plastik pada sayayang dibawanya tadi . "oh iye terimakasih banyak" kataku sambilsenyum ramah ke dia. "Kita orang mana'? Tanyaku pada dia. " Orang Sinjai". Jawabnya. "Oh hati-hatiki paeng" kataku. "Iye kanda"jawabnya."Waduhh kayak saya kelihatan tua diimatanya, kenapa dia memanggil saya kanda". Gumanku dalam hati.Kini saatnya kembali packing, kemudian melanjutkan perjalanan. Ditengah kesibukan kami mempacking barang bawaan, beberapa pendaki amatiran lewat disamping tenda kami, mungkin mereka mau ke pos 12 atau pos 13 untuk hunting foto.
Jam 09.16, kami melanjutkan perjalanan.Medan jalur ke pos 12 sangat terbuka, hanya di tumbuhi rumput ilalang dan bunga edelwis serta bebatuan, sedang di sisi kiranya terdapat jurang yang sangat dalam. Hanya butuh waktu 20 menit, kami sudah sampai di pos 12. Dan benar saja, rombongan pendaki tadi sedang asyik foto bersama. Di pos ini memang tak kalah bagusnya di puncak Bawakaraeng dijadikan backround foto, karena disini kita bisa melihat kebawah hamparan lembah ramma',dan jalur pos 13 yang terkenal keekstrimannya, karena jalurnya sempit dan sisi kiri kanannya terdapat jurang yang siap menerkam.Dan itulah kenapa masyarakat sekitar menyebutnya Letean Sirat, yang artinya jalur ini sama dengan jembatan siratal mustakim yang ada di Neraka.hahaha
Sesampai di pos 12, kami langsung melanjutkan perjalanan, melewati batu-batu besar. "Ada korek apita?" tanya dua pendaki pada kami. "Iye ada". Jawabku sambil mengambil korek api dalam reemback yang saya bawa. " makasih banyak ye'" kata pendaki tadi sesudah menyalakan rokoknya dan mau mengembalikan korek api saya. "Iye sama-sama" jawabku. "Mauki bermalam di pos 13?" tanya pendaki pada saya sambil menghisap rokoknya. Sementara Ombak dan Angin sudah jauh berjalan didepan."Ah tidak, kami mau ke Gunung Lompobattang" jawabku. "Lewat manaki"? Tanya lagi pendaki sedikit keheranan. "Lewat ini... lewat jalur yang biasa dilalui orang kalau mau ke Lompobattang. Saya jalan dulu paeng" jawabku sambil melanjutkan perjalanan. Baru berjalan beberapa meter kedepan, saya sudah dapati Ombak dan Angin, nampak kesusahan mau menuruni batu besar. Disitu kita harus menurungkan carrel baru bisa lewat. "Taroi riolo tasi'nu?" teriak saya dari belakang. Jalur pos 13 ini, memang sangat susah dilewati kalau kita membawa carrel, karena sesekali kita harus menurungkan carrel. Tapi, untungnya disisi kiri sudah ada jalur kompas turun. Jadi, kita lebih mudah melewati pos ini. Bersambung....hehehehe
?hehehe
Tunggu kelanjutan cerita perjalanan kami... Ma'af kalau tulisan saya masih acak-acakan, maklum tulisan perdana..